Tafsir Ayat Akuntansi BAB 2

Konsep Hisab & Akuntabilitas Ketuhanan (QS. Al-Zalzalah: 7-8 & Al-Baqarah: 284)

حِسَابٌ
Draf Artikel Jurnal Ilmiah Lengkap

Rekonstruksi Epistemologis Hisab dan Akuntabilitas Spiritual Akuntansi Syariah: Integrasi Nilai Lillāh-Langghâr dalam Etnometodologi Madura

Epistemological Reconstruction of Hisab and Spiritual Accountability in Islamic Accounting: Integrating Lillāh-Langghâr Values in Madurese Ethnomethodology

Faqih Ali Syariati
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Madura
faqih.syariati@uinmadura.ac.id
3 Ayat Kunci Hisab
3 Tafsir Mu'tabar
2 Pilar Budaya Madura
GCR God-Conscious Model

Abstrak (Bahasa Indonesia)

Bahasa Indonesia

Krisis moralitas dalam praktik akuntansi modern yang ditandai oleh maraknya skandal manipulasi laporan keuangan (creative accounting dan earnings management) berakar pada reduksi ontologis atas makna akuntabilitas yang bersifat sekuler, antroposentris, dan semata-mata berorientasi pada maksimalisasi kekayaan pemegang saham (shareholder wealth maximization). Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi krisis tersebut melalui perumusan kerangka Tawhidic-Cultural Accounting Accountability Model, yang menjembatani kekosongan diskursus antara hermeneutika ayat-ayat hisab dalam Al-Qur'an dan kearifan lokal. Menggunakan metode kualitatif berbasis kajian kepustakaan (library research), penelitian ini memadukan hermeneutika Tafsir Maudhu'i atas QS. Al-Zalzalah: 7-8, QS. Al-Baqarah: 284, dan QS. Al-An'am: 62 dengan analisis kritis akuntansi Islam (Islamic Critical Accounting) serta etnometodologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Makna hisab dalam Al-Qur'an menegaskan presisi audit berdimensi nol-materialitas (mithqala dzarrah) dan pengawasan batiniah mutlak; (2) Tafsir mu'tabar mengonfirmasi bahwa akuntabilitas eskatologis meniscayakan pertanggungjawaban melebihi proksi finansial formal; (3) Integrasi filosofi Shari'ah Enterprise Theory dengan nilai kultural Madura, yakni Lillāh (penyerahan diri mutlak) dan Langghâr (surau sebagai panoptikon spiritual), mampu membentuk benteng anti-fraud yang kokoh bagi etika akuntan; (4) Model pelaporan God-Conscious Reporting yang dihasilkan merekonstruksi desain standar audit AAOIFI menuju kesadaran ilahiah yang holistik.

Kata Kunci:
Akuntansi Kritis Islam Akuntabilitas Spiritual Etnometodologi Madura Hisab God-Conscious Reporting

Abstract (English)

English

The moral crisis in modern accounting practices, characterized by the proliferation of financial statement manipulation scandals (creative accounting and earnings management), is rooted in the ontological reduction of accountability, which is secular, anthropocentric, and solely oriented toward shareholder wealth maximization. This study aims to deconstruct this crisis by formulating the Tawhidic-Cultural Accounting Accountability Model, bridging the discursive gap between the hermeneutics of Quranic hisab verses and local wisdom. Employing a qualitative library research method, this study integrates the Tafsir Maudhu'i hermeneutics of QS. Al-Zalzalah: 7-8, QS. Al-Baqarah: 284, and QS. Al-An'am: 62 with Islamic Critical Accounting analysis and Islamic ethnomethodology. The findings reveal that: (1) The concept of hisab in the Quran affirms audit precision with a zero-materiality dimension (mithqala dzarrah) and absolute esoteric surveillance; (2) Authoritative exegeses confirm that eschatological accountability necessitates responsibility beyond formal financial proxies; (3) The integration of Shari'ah Enterprise Theory philosophy with Madurese cultural values, namely Lillāh (absolute surrender) and Langghâr (the prayer room as a spiritual panopticon), effectively forms a robust anti-fraud fortress for accountants' ethics; (4) The resulting God-Conscious Reporting model reconstructs AAOIFI audit standard designs toward holistic divine consciousness.

Keywords:
God-Conscious Reporting Hisab Islamic Critical Accounting Madurese Ethnomethodology Spiritual Accountability